IPTU Subkhan : Jadilah Direct of Change Jangan Hanya Jadi Agen of Change

KUDUS (27/03/2021). PC PMII Kudus menggelar diskusi publik dengan tema “Peran “Pemuda Dalam Membangun Negara Yang Berdaulat Dan Bermartabat Dengan Berlandaskan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah” di Aula Gedung PCNU Kab. Kudus.

Acara tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan awal dalam pembukaan Konfercab PC PMII Kudus XXIX yang diselenggarakan selama dua hari dan dibuka oleh Ketua PCNU Kab. Kudus Drs. H. Asyrofi Masyito.

Kepala Unit Keamanan Khusus Satintelkam Polres Kudus IPTU Subkhan, S.H., M.H sekaligus Penulis Buku Menutup Celah Penyebaran Ideologi Teroris (MENCEPIT) yang hadir sebagai narasumber mengatakan, berdasar Data Badan Perencanaan Pembangunan dapat diketahui 63 juta orang dari jumlah penduduk Indonesia adalah pemuda. Stigma pemuda yang idealis, belum terkotori kepentingan dan terbebani sejarah telah menjadikan pemuda menurut umumnya berperan sebagai penyampai kebenaran, agen perubahan dan generasi penerus masa depan. Dalam kontek agama pemuda disebut sebagai generasi penerus (At Thur:21), generasi pengganti (Al Maidah:54) dan generasi pembaharu (Maryam:42). Hal itulah yang menjadikan pemuda tak pernah absen dalam menanggapi setiap terjadinya perubahan tatatan dan perubahan sosial terutama ketika disekitarnya terdapat ketidakadilan, pembodohan dan penindasan hak rakyat. Tercatat dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa di dunia, hamper semua perubahan besar terjadi karena dipicu dan dipelopori gerakan pemuda sehingga peran pemuda sangat menentukan kemajuan sebuah bangsa.

“Peran pemuda saat ini sedang dibutuhkan oleh bangsa dan negara yang sedang menghadapi disintegrasi karena penyebaran paham radikalisme dan penyebaran berita hoak. Radikalisme telah menyebabkan sikap fanatic dan intoleransi anti kebhinekaan, sedangkan hoak itu sendiri telah menjadi media utama penyebaran paham radikal. Hoak berisi pesan-pesan yang bersifat agitasi, hasutan, caci maki, ujaran kebencian dan propaganda anti pemerintah serta anti Pancasila. Radikalisme dan hoak semakin mengikis nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi manakala keduanya dibungkus dengan ajaran agama” kata IPTU Subkhan.

“Dalam ajaran Islam Aswaja, dikenal ilmu aqidah, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf. Ketiganya harus seimbang, seiring sejalan sebagai bekal mengaruhi kehidupan. Ketika hanya mempelajari aqidah saja, maka kita akan terjebak pada usaha mengenal dan mendekatkan diri pada Tuhan saja sehingga kita akan menjadi orang yang fanatic. Ketika hanya mempelajari fiqih saja, maka kita akan terjebak pada usaha mempelajari aturan atau hukum saja sehingga kita akan menjadi orang yang intoleran. Bila kita hanya mempelajari aqidah dan fiqih saja maka kita berpotensi menjadi seorang yang radikal karena kita memiliki sikap fanatic dan inteloran. Untuk itu, kita dituntut untuk mempelajari tasawuf, karena dengan tasawuf kita akan mengenal akhlak yang baik, selalu berkhusnudhon bahkan dalam hal melihat dan mensikapi ajaran aqidah dan fiqih yang berbeda-beda” jelasnya.

“Setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya serta hiduplah pada zamannya. Saat ini zaman era digital, maka kuasai daratan atau aksi nyata di lapangan dan kuasai udara atau dunia online dan medsosnya. Setiap pemuda diharapkan ikut berperan aktif dalam melawan disintegrasi bangsa yang disebarkan melalui paham radikalisme dan hoak dengan peran nyata, tidak berkutat pada konsep dan teori semata, karena dubur ayam yang mengeluarkan telur, lebih mulia daripada mulut intelektual yang hanya berjanji akan memberi telur. Jadilah direct of change atau pelaku perubahan dan jangan hanya jadi agent of change atau agen perubahan saja” Pesan IPTU Subkhan.

“Pelajari ajaran agama dengan baik dan benar, benar nasab guru dan nasab keilmuannya serta benar secara substansinya, sehingga kita juga akan menghormati budaya atau kearifan local yang ada sebagaimana diajarkan Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus. Ketika ajaran agama dipelajari secara sepotong-sepotong dan hanya secara tekstual saja justru akan berpotensi merusak agama dan kedamaian itu sendiri. Kedamaian tercipta bukan karena agama, namun karena budaya. Apapun agamamu ketika budayanya damai maka tidak akan terjadi perselisihan ataupun peperangan, namun sebaliknya ketika agama kita samapun, namun budaya kita berperang maka kedamaian akan sulit terwujud”pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *