Perkembangan teknologi digital membuat berbagai aktivitas masyarakat menjadi semakin mudah, termasuk mengikuti arisan. Jika sebelumnya arisan dilakukan secara langsung dalam lingkungan pertemanan atau komunitas, kini kegiatan tersebut juga banyak dilakukan secara online melalui media sosial dan aplikasi percakapan.

Kemudahan tersebut tetap perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Di balik tawaran arisan online yang terlihat menguntungkan, terdapat risiko penipuan yang dapat menyebabkan peserta mengalami kerugian finansial.
Modus penipuan arisan online biasanya diawali dengan tawaran yang menarik. Pelaku dapat menjanjikan keuntungan besar, pencairan cepat, nominal setoran ringan, atau sistem yang diklaim aman karena memiliki banyak anggota. Untuk meyakinkan calon korban, pelaku dapat menggunakan testimoni, bukti transfer, tangkapan layar pencairan dana, hingga akun media sosial yang terlihat aktif.
Masyarakat perlu memahami bahwa banyaknya anggota atau testimoni di media sosial bukan jaminan bahwa sebuah arisan benar-benar aman. Bukti transaksi yang ditampilkan juga dapat dibuat atau dimanipulasi untuk membangun kepercayaan calon peserta.
Salah satu hal yang perlu dicermati adalah mekanisme arisan yang tidak jelas. Sebelum bergabung, pahami siapa pengelolanya, siapa saja pesertanya, bagaimana mekanisme pembayaran, kapan pencairan dilakukan, serta dari mana sumber dana untuk memenuhi pembayaran kepada peserta.
Waspadai pula tawaran yang menjanjikan keuntungan tidak wajar. Arisan pada dasarnya merupakan kegiatan pengumpulan dana secara bersama-sama berdasarkan kesepakatan. Apabila sebuah tawaran justru menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa penjelasan yang masuk akal, masyarakat perlu berhati-hati.
Tekanan untuk segera bergabung juga patut dicurigai. Pelaku dapat menggunakan kalimat seperti “slot terbatas”, “harus transfer hari ini”, atau “kesempatan terakhir” agar calon korban tidak memiliki waktu untuk melakukan pemeriksaan.
Jangan terburu-buru mengirimkan uang hanya karena mendapat ajakan dari teman, kerabat, atau seseorang yang dikenal melalui media sosial. Identitas pengelola dan mekanisme kegiatan tetap perlu diperiksa secara mandiri.
Masyarakat juga perlu menjaga data pribadi. Jangan memberikan foto identitas, nomor rekening, PIN, password, kode OTP, maupun data keamanan lainnya kepada pihak yang tidak berkepentingan. Data tersebut dapat disalahgunakan untuk berbagai tindak kejahatan.
Sebelum melakukan pembayaran, pastikan rekening tujuan benar-benar sesuai dengan informasi yang telah diverifikasi. Simpan bukti transfer dan seluruh percakapan dengan pengelola sebagai dokumentasi.
Jika sebuah arisan mengharuskan peserta merekrut anggota baru agar mendapatkan keuntungan atau pencairan dana, masyarakat perlu mencermati mekanismenya secara lebih serius. Sistem yang sangat bergantung pada masuknya peserta baru dapat memiliki risiko tinggi apabila tidak didukung kegiatan ekonomi yang jelas dan berkelanjutan.
Apabila menemukan dugaan penipuan, jangan menunggu hingga kerugian semakin besar. Hentikan transaksi, simpan seluruh bukti, lakukan pengamanan terhadap rekening atau akun yang terkait, dan segera laporkan kepada pihak yang berwenang.
Bagi masyarakat yang belum menjadi korban, langkah terbaik adalah melakukan pencegahan. Jangan mudah tergiur keuntungan, jangan percaya hanya karena banyak orang ikut, dan jangan menyerahkan uang sebelum memahami mekanisme serta pihak yang mengelolanya.
Di era digital, penipuan dapat dikemas dengan cara yang semakin meyakinkan. Karena itu, kewaspadaan menjadi perlindungan pertama bagi setiap pengguna internet.
Arisan seharusnya menjadi sarana kebersamaan, bukan pintu masuk kerugian. Teliti sebelum bergabung, verifikasi sebelum transfer, dan jangan mudah percaya pada tawaran keuntungan yang tidak masuk akal.