Hati-hati Oversharing Kehidupan Pribadi di Media Sosial

Mengupload foto dan video di media sosial sudah menjadi hal yang biasa dan wajar di zaman sekarang. Hampir setiap hari rasanya kita disuguhi dengan banyak konten tentang kehidupan orang lain. Tidak sedikit orang yang menjadikan media sosial sebagai diary kehidupan dan menganggap itu adalah hal yang wajar.

Habis wisuda, liburan, ulangtahun langsung posting. Updated status setelah makan bareng, arisan atau sedang perjalanan ke suatu tempat. Lagi ada masalah di kantor, nge-tweet, ada masalah rumah tangga cerita panjang lebar di Facebook dan masih banyak lagi. Bahkan sisi kehidupan yang dianggap privasi seringkali di bagikan di media sosial.

Media sosial sekarang membuat batasan privasi seseorang menjadi semakin buram. Bahkan saking asyiknya bermedia sosial lalu menjadi oversharing dan secara sadar maupun tidak sadar telah membagikan informasi-informasi pribadinya. Padahal ada risiko signifikan jika terlalu oversharing informasi pribadi.

Penyebab Perilaku Oversharing di Media Sosial

Oversharing merupakan suatu perilaku seseorang yang membagikan informasi detail tentang kehidupan pribadi secara berlebihan di media sosial. Baik itu informasi berupa foto, video atau konten yang berkaitan dengan informasi pribadi tentang aktivitas sehari-hari seseorang.

Beberapa faktor yang membuat seseorang oversharing antara lain karena kecanduan media sosial. Berbagi di media sosial dapat memicu respon kimia di otak yang mirip dengan efek zat adiktif. 

Setiap kali kita mendapatkan like, komentar positif dan pembagian ulang, otak akan melepaskan hormon dopamin yang membuat kita merasa senang. Hal tersebut akan menciptakan lingkaran umpan balik yang mendorong untuk terus berbagi lebih banyak konten yang terkadang tanpa menyadari batasan privasi.

Faktor yang kedua adalah kebutuhan untuk diperhatikan dan penerimaan sosial. Media sosial menyediakan platform yang memungkinkan untuk mendapatkan pengakuan atau validasi dari teman, keluarga dan bahkan orang asing.

Keinginan untuk selalu diperhatikan, dicintai, diterima dan dipuji sering kali mendorong seseorang untuk sharing lebih banyak tentang diri mereka sendiri, bahkan hal-hal yang seharusnya tetap pribadi.

Faktor berikutnya yaitu keinginan untuk mengekspresikan identitas diri. Banyak orang merasa perlu untuk membagikan pemikiran, perasaan, dan pengalaman mereka untuk menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Keinginan untuk dikenal dan dipahami ini sering kali menyebabkan orang membagikan lebih banyak informasi pribadi daripada yang seharusnya.

Dan faktor terakhir karena kurangnya kesadaran privasi. Banyak pengguna media sosial tidak sepenuhnya menyadari risiko yang terkait dengan oversharing. Mengingat media sosial sendiri baru muncuk sekitar tahun 2010 di Indonesia, jadi mungkin ilmunya belum semendalam itu. 

Bahwa kita tidak seharusnya mempublish KTP, alamat lengkap atau boarding pass pesawat yang mana ada barcode yang berisi data pribadi kita. Kurangnya pemahaman tentang pentingnya privasi digital juga menyebabkan oversharing.

Bahaya Oversharing

Informasi pribadi yang dibagikan seperti KTP, foto anak dan keluarga, tanggal lahir, alamat, dan nomor telepon dapat dimanfaatkan oleh penjahat siber mencuri identitas yang digunakan untuk melakukan penipuan, pemerasan, penculikan anak, menggunakan foto dan identitas kita untuk penipuan atau mengakses rekening bank. 

Begitu informasi pribadi beredar di internet, akan menjadi jejak digital yang sulit dihilangkan sepenuhnya. Kita akan kehilangan privasi yang berdampak pada potensi timbulnya masalah dalam kehidupan profesional dan pribadi.

Selain itu informasi pribadi dapat digunakan oleh orang-orang dengan niat buruk untuk melakukan bullying atau pelecehan. Foto-foto, opini kontroversial, atau detail kehidupan pribadi bisa menjadi bahan ejekan atau serangan di dunia maya.

Ketika seseorang tidak tahu batasan privasi dirinya yang harus diproteksi, besar kemungkinan juga tidak tahu privasi orang lain yang perlu dihormati. Oleh karena itu sering kita temuin kasus dimana ada yang oversharing memposting privasi orang lain secara bebas di medsos, mengambil foto atau video orang lain tanpa ijin dan sepengetahuan orang yang bersangkutan yang dengan bebas di posting.

Apa-apa di spill, data pribadi, sisi buruknya, masalah pribadinya yang akhirnya malah merugikan kedua belah pihak. Bila tidak terima bisa dituntut dengan UU ITE atau ujung-ujungnya harus posting video permintaan maaf dan tandatangan di atas materai 10.000 rupiah.

Hal yang Harus Dilakukan

Lantas apa yang harus kita lakukan? Pertama kita harus aware atau sadar akan privasi diri kita. Pahami batasan, hal-hal apa aja yang bisa dan tidak bisa di-share. Posting konten atau foto di sosmed itu boleh-boleh saja tapi kita perlu sadar, bijak dan mindful terhadap setiap tindakan yang kita lakukan di sosmed.

Jadi, setiap memiliki keinginan untuk memposting atau membalas pesan coba direnungkan dulu. “Kenapa saya melakukan hal ini?” “Apakah ini perlu?” “Tujuan dan manfaatnya apa?” “Konsekuensinya apa?” “Bahaya atau tidak?” Kesadaran ini penting dalam bermedsos, supaya tiba-tiba tidak dituntut netizen dan juga mengundang kejahatan digital.

Kedua, bila kita sudah sadar untuk menjaga privasi kita dengan tidak membagikan data pribadi kita ke sembarang orang. Kitapun juga harus menjaga privasi orang lain dan mengerti etika bermedsos. Jangan sembarangan oversharing data orang lain, termasuk foto dan identitas tanpa izin.

Seiring perkembangan zaman, banyak orang berlomba-lomba untuk oversharing dengan memposting alih-alih mem-private hal-hal pribadi tentang dirinya. Ketika kita memilih untuk membuka diri dan kehidupan pribadi kita di media sosial, maka akan semakin banyak orang yang tahu tentang diri kita akibatnya privasi kita berkurang.

Sebaliknya, ketika memilih untuk tidak terlalu oversharing dan memproteksi diri dengan tidak sembarangan orang tahu kehidupan pribadi kita, maka kita akan memiliki privasi yang lebih besar.

Jadi ini semua adalah pilihan, kita punya kehendak bebas mau memilih yang mana. Tidak jadi masalah bila mau membagikan sesuatu ke publik, asalkan tahu konsekuensinya dan bertanggungjawab atas konsekuensi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *